Sedikit hati berbagi dengan orang yang mau mengerti. Sedikit mengerti untuk orang yang mau berbagi.
Oct, 03 2008. Ini kali pertama dalam minggu ini aku memasuki warnet langgananku setelah lebaran dan liburan. Beberapa mata tertuju kepadaku ketika aku membuka pintu untuk memasuki ruangan ber-AC tersebut. Ada seorang yang menarik perhatianku, seorang gadis mungil (aku tafsirkan umurnya kira-kira 15 tahun). Beberapa detik kami sempat beradu pandangan sebelum aku duduk. Dari wajahnya terpancar kegembiraan. Entah apa yang terjadi dengan layar monitor yang ada dihadapannya, atau dia lagi menikmati sesuatu yang ada di telinganya. Sesuatu kebahagiaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata.
Aku memilih salah satu box, aku menikmati aktivitasku. Dia pun begitu. Semua yang ada disini begitu. Masing-masing individu sibuk dengan keegoisan mereka menikmati teknologi yang bernama internet. Akupun sibuk dengan
perpindahan rumahku. Beberapa menit lamanya, seorang bapak dengan tubuh biasa saja, tinggi biasa saja (matipun mungkin biasa saja), tidak terlalu kurus, memakai kalung emas memasuki warnet ini. Entah apa yang dia cari, dia bertanya kepada salah satu anak di seberang box komputerku.
Tidak jelas nama siapa yang dia sebut, namun setalahnya aku tau kalo yang dia cari ternyata gadis yang aku perhatikan dari tadi. Huff, ternyata itu adalah ayah dari anak gadis tersebut. Tanpa banyak basa-basi si ayah langsung memarahi si anak gadisnya. Dan, **Buuk** satu tabokan mendarat di bahu sang anak. Si ayah menyuruh anak pulang dengan nada tinggi. Si anak hanya bilang “Iya, iya dan Iya”.
Si ayah pun keluar dari warnet! Tapi aku rasa mereka berdua cocok secara sifat. Kenapa? Lihat saja, si anak masih duduk manis di kursinya dengan nada suara riang. Tidak tergambar dari wajahnya penyesalan atau semacmnya. Entah kenapa? mungkin kejadian ini sudah biasa baginya. Hatinya tidak bergetar, matanya tidak bergeming dari monitor, duduknya tidak beranjak. Dia masih menikmati hiburan itu. Ya kembali lagi ke sifat yang cocok tadi, si ayah cepet naik darah. Dan sang anak ngeyel minta ampun.
Tidak malukan sang ayah sudah memperlakukan anak perempuannya di tempat umum seperti itu? tidak malukah sang anak sudah diperlakukan seperti itu oleh ayahnya? berakhirkah drama “Oh mama, Oh papa!” ini? belum. Suasana warnet berubah hening kelabu, tapi mereka masih egois dalam menikmati hiburan mereka.
Untuk kedua kalinya si ayah memasuki warnet tersebut. Kali ini agak berbeda. ya dia membawa sesuatu. Ikat pinggang atau lebih tepatnya pending berwarna coklat yang biasa dipakai buat gaya-gayaan anak cewek (mungkin juga punya sang anak). Kali ini si ayah marah tidak ketulungan, sambil marah-marah dia berkata “Mas, ini anak kalo besok kesini marahin dan dirusuh pulang ajah”. Entah dia ngomong dengan siapa, aku jawab ajah “Besok saya tidak kesini kok Pak, soalnya ga da duit, maklum bank libur. Jadi ga bisa transfer.” tentu saja aku jawab dalam hati. Kesel! Sebel!
Si anak masih ngeyel, dengan geramnya si ayah mengikatkan pending tersebut ke leher sang anak. Layaknya pengembala mengikatkan tali ke leher kambing. pantaskah hal itu terjadi? yang patut mengikat kambing saja hanya manusia, Pantaskah manusia mengikat manusia layaknya seperti mengikat kambing?
Dengan berat hati, sang anak meninggalkan warnet karena di paksa pulang ( tidak bayar). Aku juga berharap pulang dari warnet tanpa bayar, tentu saja dengan kejadian yang baik-baik.
Sebelum keluar, aku sempat beradu mata lagi dengan sang anak. Matanya berpancaran air mata. Tampak sekali kesengsaraan dari dalam dirinya. kenapa aku bisa tau? dari tatapan matanya. Mata tidak bisa berdusta, karena memang mata ga bisa ngomong.
Aku tidak habis pikir, apa yang bakal terjadi dirumah nanti pada si anak. Mungkin sebelum sampai pun diperlakukan yang tidak senonoh. Ah, mungkin ini hanya karena kekhawatiranku saja yang berlebihan. Semoga sang Ibu yang mengerti bisa menjadi malaikat pembawa kedamaian dirumah. Tentu saja bukan Ibu tiri yang kejam.
Samar-samar aku dengar dari temannya yang bercerita kalo dirumah dia sering diperlakukan todak senonoh, dihajar sampai babak-belur,disiram air panas dan sebagainya.
Aku masih berpikir kenapa hal ini bisa terjadi? aku sangat sering lihat di film kejadian seperti ini. Tapi pemandangan secara langsung peristiwa tersebut sangat langka bagiku. Sosok ayah yang harusnya jadi panutan dan kebanggaan serta dapat memanjakan anak gadisnya, tidak lain hanya seorang monster bagi sang anak.
Aku harap aku bakal jadi ayah yang baik dan jadi panutan bagi anak-anakku, dan menjadi pelindung bagi istriku. ![]()
kasian banget ceweknya go! btw, ceweknya cantik ga? :p
Arvernester : “Yup. biasa ajah ceweknya, cantik ga, jelek ga. relatif gitu! tapi aku lebih merhatiin kasiannya daripada kecantikannya.”
![]()
kasihan dia…
minal aidin wal faidzin ya…
kok acara bukber dengan dwebber nggak diposting disini?:D
Arvernester : “Kalo liat secara langsung lebih kasian lo..
! Loh ,saya kan ga ikut bukber dweb kemarin. Hikz.. :(”
aneh ya….
aneh aja kok ga ditolongin…
kalo Gw mah…udah, jangan ditanya…ya ga ngapa2in jg hohoho…(tapi tadi sang ayah digambarin bandannya kurus n ga terlalu tinggi kan..berarti kalo berantem masih ada kesmpatan menang gw tuh….hehehe
Arvernester : “Hmm, mungkin itu sudah pemandangan biasa disini untuk anak dan orang sekitarnya. Lagian, itu urusan keluarga bung. Jarang-jarang yang mau ikut campur”
![]()
Ayah kandung yang kejam,,
Arvernester : “Iya, Orang bilang ibu tiri memang kejam, tapi ibukota lebih kejam. Ayah kandung juga ga kalah kejam kalau memperlakukan anaknya seperti itu.”
![]()
sadis …
Arvernester : ” Iya. Moga aja nanti kita ga kayak gitu”
![]()